Anak-anak Indonesia Sebarkan Perdamaian Melalui Tarian di Sicilia Italia
By Admin
nusakini.com--Sembilan anak Indonesia berusia antara 9-18 tahun yang tergabung dalam sanggar Kinnari dari Jakarta berpartisipasi dalam Festival Internazionale 'l Bambini del Mondo' atau Festival Anak-anak Dunia ke-17 di kota Agrigento di region Sicilia, Italia pekan lalu,
Mereka tampil membawakan ragam tarian Indonesia, yaitu Ratoeh Duek Saman dari Aceh, Zapin dari Riau dan tari Topeng Lambang Sari dari Betawi.
Berada di Agrigento pekan lalu, mereka tampil pada berbagai kesempatan bersama dengan anak-anak lainnya dari Bulgaria, Polandia, Ukraina, Turki dan tuan rumah Italia.
Setiap tarian yang ditampilkan selalu mendapatkan sambutan meriah dari para penonton, yang utamanya adalah anak-anak maupun orang dewasa. Pada salah satu penampilan di Aula Universitas Propinsi Agrigento yang dihadiri sekitar 700 siswa taman kanak-kanak dan sekolah dasar, mereka sempat berbagi keceriaan, bersama-sama sejumlah anak Italia belajar menarikan sebagian gerakan tangan khas tarian Saman.
Penampilan mereka memang terlihat spesial dengan gaya tarian dan kostum Aceh, yang menonjolkan kekompakan gerakan badan dan tangan antarpenari. Sementara itu, penampil dari negara lain memiliki kemiripan gaya satu sama lain khas tradisional eropa yang lebih banyak menggunakan gerakan kaki.
Tak heran bila setiap penampilan mereka selalu berhasil mencuri perhatian dari penonton, baik pada saat karnaval di kompleks bangunan Yunani kuno dan di jalan utama di pusat kota, di pusat perbelanjaan, auditorium kampus, hingga di Teater Pirandello yang megah.
Sebelum berangkat ke Sicilia, anak-anak ini singgah di ibu kota Roma dan mendapat wejangan dari Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) KBRI Roma, Des Alwi yang mendorong mereka untuk melakukan yang terbaik sebagai duta bangsa dalam menyebarkan perdamaian lewat tarian. Mereka juga sempat tampil sejenak menampilkan tari Ratoeh Duek Saman di pelataran Colosseum, obyek wisata yang menjadi ikon Italia dan mendapat sambutan meriah dari para wisatawan.
Pimpinan Sanggar Kinnari, Ida Riyanti mengemukakan kesannya bahwa makna historis dan subtantif yg melekat dlm festival ini patut dijaga, yaitu upaya menanamkan nilai harmoni dan perdamaian dunia bagi anak muda. Ia juga berharap Indonesia memberi perhatian lebih terhadap peran budaya dalam membangun karakter bangsa yang dimulai dari usia dini dan anak-anak.
Sementara itu, salah seorang penari cilik, Syifa Amanda (11 tahun) mengisahkan kesannya mengikuti festival ini: "Seru, bisa berinteraksi, senang bisa bersosialisasi dengan orang asing, mengetahui budaya dan kebiasaan orang lain. Yang pasti, aku sangat bangga mewakili Indonesia dan senang dalam mengikuti festival ini."
Disamping harus mempersiapkan diri untuk setiap pertunjukan dan penampilan tarian, anak-anak ini juga dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan setempat dan membangun persahabatan dengan sesama tim misi budaya dari negara lainnya. Mereka harus tetap tegar menghadapi temperatur rendah dan angin yang bertiup kencang di penghujung musim dingin, selain makan dengan penganan khas Italia yang disajikan oleh pihak panitia, tidak jauh dari pasta atau pizza selama berhari-hari.
Ketua Panitia Festival, Luca Criscenzo dari Associazione International Folk Agrigento (AIFA) menyampaikan kepada KBRI Roma bahwa kegiatan pertukaran budaya bagi anak-anak akan dapat membuka wawasan mereka tentang dunia yang lebih luas dan keragaman. Pengalaman pribadinya, ketika masih anak-anak diajak menari oleh mendiang ayahnya (sebagai pendiri festival ini) telah membuat dirinya memiliki pikiran yang lebih terbuka untuk memahami kultur lainnya di dunia.
Kota Agrigento berada di sebelah barat daya Sicilia, pulau yang terletak di bagian paling Selatan Italia, berhadapan dengan Laut Mediterania dan benua Afrika. Kota ini dulu pernah menjadi bagian dari Yunani kuno, dan memiliki sejumlah peninggalan bersejarah yang menjadi situs warisan dunia UNESCO, yaitu kota tua Valle dei Templi yang dikenal dengan kuil Juno dan kuil Concordia.
Tahun ini, kota yang berpenduduk sekitar 60 ribu orang ini telah menyelenggarakan festival budaya tradisional (folklore) untuk orang dewasa Mandorlo del Fiore yang ke-72 kali dan untuk anak-anak yang ke-17 kali. Peninggalan bersejarah dan lanskap yang indah menjadikan kota ini salah satu tujuan wisata utama di pulau Sicilia. (p/ab)